Profesi Saya Bukan Hanya Koar-Koar Soal Jalan

Saya bukanlah pekerja lulusan teknik sipil yang paham akan istilah-istilah teknis transportasi berkeselamatan. Memang, dulu saya bermimpi untuk bisa bekerja sebagai seorang sarjana teknik namun bukanlah teknik sipil, saya lebih tertarik untuk mempelajari teknik perminyakan. Sebagai seorang perempuan tomboy, rasanya keren sekali jika saya bisa menghabiskan waktu di rig tambang, di tengah samudera, bersama insinyur-insinyur perminyakan lainnya. Tapi apa daya, nilai kimia dan fisika saya anjlok. Bukan hanya anjlok, tapi saya ogah-ogahan belajar soal dua mata pelajaran ini. Nilai geografi dan sejarah saya justru lebih besar dan mengantarkan saya untuk menjadi seorang pecinta ilmu hubungan internasional. Ilmu yang kini mengantarkan saya untuk menjadi seorang konsultan komunikasi dan kampanye untuk sebuah organisasi non-profit yang fokus di isu keselamatan jalan di Kota Bandung.

Apa itu keselamatan jalan? Emang penting? Emang isunya seksi? Terus kamu kampanye soal apa?

Banyak orang yang tidak tahu sebelumnya (termasuk saya) jika keselamatan jalan adalah sebuah isu krusial lintas sektoral yang harus segera ditangani. Isu ini bukan hanya sekedar urusan tambah luas jalan, tambah panjang trotoar, atau tilang sana tilang sini. Isu keselamatan jalan ternyata lebih luas dan rumit sehingga dibutuhkan kepala-kepala ahli di bidang data, teknis pembangunan jalan, penegakan hukum, kesehatan, dan juga komunikasi. Atau mungkin malah sebenarnya lebih luas dibandingkan kelima bidang di atas. Salah satu yang akan saya angkat disini adalah peran saya di dalam nya sebagai seorang konsultan media dan komunikasi untuk organisasi ini.

Jabatan saya adalah sebagai Communication Officer dan sampai saat ini, sudah genap sudah saya selama 2 tahun 5 bulan saya mengabdi di organisasi ini sekaligus kepada Pemerintah Kota Bandung. Saya bertugas sebagai seorang konsultan komunikasi yang memberikan bantuan dan pengarahan komunikasi dan advokasi kepada pemerintah terkait pentingnya kampanye keselamatan jalan untuk mengurangi angka fatalitas akibat tabrakan di jalan raya. Saya pun seringkali memberikan seminar, sharing, dan juga pengarahan kepada komunitas-komunitas tertentu maupun jajaran pemerintah terkait pentingnya isu keselamatan jalan untuk mendapatkan perhatian lebih.

Sebenernya apa sih penyebab tabrakan lalu lintas?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau yag lebih kita kenal dengan nama WHO, menyebutkan bahwa terdapat lima faktor risiko penyebab fatalitas di jalan raya, yaitu:

  1. Penggunaan helm yang tidak tepat (tidak sesuai standar dan tidak di-klik);
  2. Tidak menggunakan sabuk keselamatan saat berkendara;
  3. Tidak digunakannya child restraint atau sabuk keselamatan khusus untuk anak;
  4. Mengemudi di atas batas kecepatan yang dianjurkan alias mengebut;
  5. Mengemudi di bawah pengaruh alkohol atau mabuk.

Selain kelima hal tersebut masih dikenal lagi risiko lainnya yaitu mengemudi sambil menggunakan telepon seluler dan juga drowsy driving alias mengemudi sambil mengantuk atau kelelahan. Keduanya pun tidak kalah berbahayanya. Dalam perihal ini, saya dan tim membantu pemerintah dalam melakukan kampanye keselamatan jalan yang terarah melalui beberapa platform media seperti media sosial, televisi, radio, dan outdoor campaign. Tidak hanya melibatkan pemerintah, komunitas-komunitas kepemudaan pun dilibatkan untuk mendukung kampanye karena kami percaya bahwa kolaborasi yang mumpuni akan mendukung dan meningkatkan efektivitas kampanye dalam segi apapun.

Apa sih hal yang menarik?

Wah banyak sekali! Selain mendapatkan kesempatan untuk belajar dari kota-kota lain di dunia terkait keselamatan jalan, saya pun bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki concern yang sama di bidang ini dan belajar banyak dari mereka. Mulai dari mereka yang bertugas membangun jalan dan tata letak kota yang ramah bagi pejalan kaki, berkampanye dengan menggandeng pemerintah kota New York dan swasta selama puluhan tahun secara masif, sampai mereka yang melatih para staff kepolisian. Tapi ada hal yang lebih menarik yaitu ketika saya berkesempatan untuk bertemu dengan para korban tabrakan lalu lintas di Kota Bandung untuk terlibat di acara Hari Peringatan Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia atau yang lebih dikenal dengan istilah World Day of Remembrance for Road Traffic Victims pada tahun 2018.

Selama tiga bulan melakukan pencarian secara mandiri dengan menyisir info melalui data kepolisian, rumah sakit, sampai wawancara dengan pengemudi transportasi online, saya akhirnya bisa bertemu dengan hampir 50 orang korban ataupun keluarga korban tabrakan. Rasanya begitu sedih dan salut dengan perjuangan mereka untuk tetap berdiri saat masih dihantui trauma, kehilangan dan juga rasa sakit psikis maupun fisik yang masih tertinggal akibat tabrakan. Selama dua minggu saya seringkali menangis sendirian pasca mewawancarai korban yang harus kehilangan penglihatannya, penari yang kakinya hampir diamputasi, seorang Ayah yang kehilangan anak bungsunya, atau seorang perempuan muda yang harus melihat Ibu nya meninggal saat mobil yang mereka tumpangi tertabrak pengemudi yang mengebut. Cerita mereka yang inspiratif menjadi pelajaran bagi saya yang kemudian saya bagikan dengan begitu banyak orang yang saya temui jika setiap langkah kecil yang kita ambil saat berkendara akan memberikan dampak besar bagi semua pengguna jalan.

Ya, pekerjaan saya bukan hanya koar-koar soal jalan tapi juga memberikan pengertian kepada masyarakat luas akan pentingnya untuk berkeselamatan. Karena kamu harus percaya: Disiplinnya kamu di jalan tidak hanya akan menyelamatkan kamu tapi juga mereka yang tidak kamu kenal.

Bandung, 15 Maret 2019

Saat Saya Pertama Kali Mengenal Dia

Spoiler alert: It will be fully in Bahasa Indonesia!

Sebagian orang mengenal saya sebagai pribadi yang terbuka dan senang bicara. Ada benarnya juga, namun terkadang saya lebih memilih untuk menulis dan menceritakan pengalaman saya.

Saya bertemu dengan Sam tepatnya di bulan April tahun 2013 lalu. Kami ikut dalam open tour ke Gunung Krakatau dan pulau-pulau di sekitarnya bersama dengan kurang lebih 50 orang

 

dari Jakarta dan sekitarnya. Saat itu kami berdua tidak saling mengenal satu sama lain dan menumpang di kapal kayu yang berbeda. Saya di kapal kecil dan sedang dalam misi pendekatan dengan seorang pria yang baru saya kenal beberapa bulan sebelumnya, sedangkan Sam ada di kapal yang lebih besar dengan teman-teman satu kantornya. Bertatap matapun tidak, apalagi saling menyapa. Kami hanya saling menyapa saat kapal ferry yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Merak hampir tengah malam. Hanya sekedar berjabat tangan, menyebutkan nama dan asal negara. Selebihnya saya tinggalkan dia karena dia asyik melamun sambil memandangi laut.

Mungkin saya membosankan baginya!

Selang beberapa bulan berikutnya, saya tidak pernah bertemu dengan Sam. Sama sekali. Saya pun saat itu dalam misi mencari pasangan setelah dua tahun melalui proses penyembuhan patah hati dari pria sebelumnya. Ya, saya memang orang yang sulit move-on yang sekalinya patah hati, sembuhnya bisa butuh waktu bertahun-tahun. Saya bertemu dengan beberapa pria namun mereka hanya enak dijadikan teman mengobrol dan sisanya sudah ada yang punya. Bagi saya tabu untuk mendekati pria yang sudah memiliki pasangan meskipun ada tagline yang bilang jika “janur kuning belum melengkung, si dia bisa jadi milik siapa saja”. I am super againts it!

Pertemuan kedua saya dengan Sam terjadi tujuh bulan kemudian, tepatnya di pertengahan bulan Oktober. Pertemuan kedua itu tidak berjalan begitu lancar saat saya tahu dia lupa nama saya dan juga kenyataan bahwa dia lebih muda tujuh bulan dari saya. Having a younger boyfriend is a big no no for me after had a romance with someone whom seventeen years older than me. Namun Sam ternyata jauh dari bayangan saya tentang seorang pria bule berusia 22 tahun. Dia tahu buku-buku keren yang ingin sekali saya baca, film yang saya kira hanya saya yang tahu, dan juga pengetahuannya soal hal-hal di luar nalar saya. Dalam sekejap saya jatuh hati padanya namun gengsi gara-gara dia lebih muda dari saya.

Hidup saya menjadi lebih berwarna bersama laki-laki yang canggung saya panggil pacar sampai akhirnya dia memintanya dua bulan kemudian. Sam adalah pacar pertama saya. Seriusan! Pacar saya di dunia nyata yang benar-benar menyatakan bahwa “I am your boyfriend and you are mine!“. Pacar saya sebelumnya adalah mereka yang saya kenal lewat situs Friendster yang memutuskan saya dua minggu kemudian karena saya kurang cantik dan terlalu gemuk, pacar saya kemudian seseorang yang saya kenal lewat situs kencan online, dan dia yang empat tahun lebih muda dari Ibu saya adalah pria numpang lewat semata.

Setengah tahun kemudian kami memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama di Bali. Entah sudah berapa banyak momen-momen berarti hadir disini hingga akhirnya kami memutuskan untuk melakukan hubungan jarak jauh sejak Sam diterima di sebuah organisasi non-profit internasional di negara asanya pada bulan Juni 2015. Tak terhitung berapa malam saya menangis, meratapi nasib saya yang kesepian. Kami memutuskan untuk bertemu setidaknya satu tahun dua kali, baik itu saya yang mengunjunginya setiap natal atau dia yang mengunjungi saya setiap musim panas. Begitu seterusnya.

Hubungan jarak jauh ini menjadi tanda kedewasaan kami berdua. Bagaimana hubungan kami secara perlahan menguat dan menjadi lebih solid karena jarak dan perbedaan waktu. Rasa rindu bukanlah hal main-main dan terkadang berbincang lewat Skype tidak banyak membantu. Di tahun-tahun awal saya dirundung rasa takut akan dicampakan dan ditinggalkan, namun ternyata hal itu bodoh belaka. Di tahun kelima ini, kami masih sama. Masih saling mencintai dan berniat untuk melangkah lebih jauh dan lebih serius.

HE PROPOSED ME!

Yes, he proposed me by saying “Will you marry me?”.

Bulan Mei tanggal 9 tahun 2018.

Saat saya pertama kali mengenal dia, saya tidak pernah berharap dia akan menjadi dunia saya. Saya pun tidak pernah meminta dia untuk tinggal karena terkadang jarak menjadi begitu banyak penghalang. Saya tidak banyak meminta hanya ingin dia setia dan tidak mencampakkan saya seperti apa yang dia lakukan pada Ibu saya.

Kami masih duduk di dua kutub yang berbeda. Dia di Manchester dan sedang tertidur lelap, sedangkan saya di Bandung dan bergumul dengan pekerjaan saya. Saya yang begitu terbuka soal emosi saya, dia yang lebih kalem dalam menjalaninya. Kami bagai dua kutub yang berbeda dan saling bersentuhan tanpa bisa terlepas. Hanya saja saat ini kami harus bersabar hingga Desember untuk bisa saling bertemu.

Saat ini saya sudah tidak bisa menghitung berapa banyak tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik yang saya habiskan bersama dia, namun yang saya yakini bahwa semuanya akan menjadi tidak terbatas. Selamanya.

 

Dianita

 

 

 

The Power of Forgiveness

STORIES

Some people have their own stories with their classic, intriguing or even mysterious plot. I have mine, you have yours and they have their stories where maybe I don’t know since I have not read the outline, I have not seen the drama and they are even not a superstar. Leads people to passiveness to ask and ignorance to follow. I believe interesting stories can come everywhere even from someone that you even don’t know or from random strangers that just open their mouth and flooded you with words and expressions.

Today, I want to share with you about my dealing to forgive.

WalkWithMe

Source: https://www.merriam-webster.com/dictionary/forgive

I was born in a (probably) happy family. My Mother raised me, and my two siblings, by herself meanwhile her husband lived in other place called ‘my parents house’. My Mother’s husband owns acres of rice fields and successful entrepreneur in his village. Everyone knows him. My siblings and I only met him every weekend and we had great memories of him until we found out that he cheated on our Mother, or completely, to US. He married another woman when I was nine without telling permission to my Mother or even divorce her. All the rotten secrets were wide opened when I was struggling finished my thesis and my brother had to work on his final test. He decided to leave us hanging. Without any pennies, any house, or any inheritance. He left us for that woman while his family also thought his steps were also the right things to do. That’s the moment when I decided not to call him a Father. No matter what a people told me about the consequences, they never know how it feels when a person that you should trust and should teach you how to build a romantic relationship with your future partner just betrays you.

It left me with high depression. I could not count how many times I want to jump over the building, died, and left all these problems. I was the oldest child while all my relatives put all the load on me. I can not count how many times they asked me:

  • Don’t forget to get married!
  • Send your mother some money!
  • You have to take care all your siblings
  •  You have to work harder. Send your family money and make them happy!
  • When you will marry your boyfriend? Bring your Mother with you!
  • Help your sister and your brother!
  • Visit your Dad. He is your Dad no matter what happens

Those are not the end of questions and statements. As a woman with heart, I know my responsibility but how the public tortures and races me with questions makes me feel like: Am I valued as a normal person who already knows my responsibility and still wants to explore the rest of the world? But why people always care about my family instead of myself who work hard alone?

Those questions are flying around my head. Interfere my sleeping patterns and scrape my confidence. I am trying to find a great lawyer to help my family while my Mother thought we only need to make a report to Religious Court. How the relationship of my Mother’s husband with her makes me afraid to get married until I told my partner that I am not ready for any official relationship every single time when I am under alcohol influence. This is the moment when a single person called ‘your mother’s husband’ could destroy the entire family mercilessly.

Until a years ago when I met a psychologist who helped me to get out of this problem and how she also handled her darkest past.

Until months ago when I met a grab car driver who learns how to forgive the person who hit him until left him disabled.

Until a week ago when I met parents who tried to forget and forgive a person who hit their 4-years old children until died.

Until today when my mother called me and could not stop asking for forgiveness.

As a person who still dealing with heartbroken, depression and anxiety, I still found myself hard to forgive someone who already hurt my feeling. Especially the person that I call ‘My Mother’s Husband’.

Forgiveness is incredibly hard. It’s as hard as what we have called in Islam as IKHLAS.

Ikhlas or sincerity is an intention, action and then perseverance on it is the highest of love and servitude to God (source: https://www.al-islam.org). Ikhlas is the highest altitude of a person where they can accept all the reality that happens and they forgive, forget and admit it as part of God’s trials. Every single person can learn how to forgive other people but sometimes they can not forget.

How I see all the people surround me to learn their life through forgiveness put me is ashamed. But I know that some people also need some time to heal from a broken heart. That’s what I am doing today inside my 2×3 meters room surrounds with 2 cats and 5 kittens. I learn how to contemplate by seeing other’s people problem and forgive my past through writings and readings. I also found that by sharing my thoughts the people whom I believe also help me to face all the challenges. I found it as funny to find that I trust my neighbours who are 9 years younger than me as my best friends but what my psychologist told me is great listeners are not looking on age. Find someone who can sit with you. listen to you, and give you the best hug. Sometimes you just want to be listened, not involve any sounds. Just listen!.

My partner, Sam helps me a lot to coup with my depression and anxiety. He always listens to me and gives me the best hug every time I need it even though most of it is virtually through Skype. I never asked for anyone better because he’s already the best person that God created for me. Even though he doesn’t believe in God and I never know who created him :).

For you who deal with your depression and still cannot forgive your past, find someone who can listen to you. When you think that your friend can not help you, please find professionals. Being help does not mean you are sick. You just need a companion who can sit with you and give you the best advice. While you are trying to forgive your pass, having social interactions by helping people in needs probably will help you to see problems from other perspectives.

You are loved and everybody loves you because you are priceless.

Love

 

Prologue

As a person who has been diagnosed with anxiety and depression, I know that enjoying life sometimes can be difficult. I see the ‘happiness’ section is based from what people see, hear, and feel about me.

I was born not in a super perfect family. I was born in a condition with lack of appreciation, care and loyalty. It cause myself as a personal who like to hide feelings and lack of confidence. Until I found my soul from: WORDS.

I love writings. I love words. I love poems. I love rags.

I found I can create my own happiness from creating my own story of past, present and future and I do not regret it until I stopped writing 6 years ago after denial. I thought people can accept my own utopia meanwhile my own creation was not beautiful enough for them. I stop. I quit. I am dissapointed with myself.

Today…

I take a first step of creating my own world back. The world where no one can not complaint about it, they just need to sit and see and feel what I want to show them. It might be not a greatest story ever, but I believe it can show people about how to respect, live and try to be happy as a person who lives with anxiety and depression.

 

Love

Dianita