Saat Saya Pertama Kali Mengenal Dia

Spoiler alert: It will be fully in Bahasa Indonesia!

Sebagian orang mengenal saya sebagai pribadi yang terbuka dan senang bicara. Ada benarnya juga, namun terkadang saya lebih memilih untuk menulis dan menceritakan pengalaman saya.

Saya bertemu dengan Sam tepatnya di bulan April tahun 2013 lalu. Kami ikut dalam open tour ke Gunung Krakatau dan pulau-pulau di sekitarnya bersama dengan kurang lebih 50 orang

 

dari Jakarta dan sekitarnya. Saat itu kami berdua tidak saling mengenal satu sama lain dan menumpang di kapal kayu yang berbeda. Saya di kapal kecil dan sedang dalam misi pendekatan dengan seorang pria yang baru saya kenal beberapa bulan sebelumnya, sedangkan Sam ada di kapal yang lebih besar dengan teman-teman satu kantornya. Bertatap matapun tidak, apalagi saling menyapa. Kami hanya saling menyapa saat kapal ferry yang kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Merak hampir tengah malam. Hanya sekedar berjabat tangan, menyebutkan nama dan asal negara. Selebihnya saya tinggalkan dia karena dia asyik melamun sambil memandangi laut.

Mungkin saya membosankan baginya!

Selang beberapa bulan berikutnya, saya tidak pernah bertemu dengan Sam. Sama sekali. Saya pun saat itu dalam misi mencari pasangan setelah dua tahun melalui proses penyembuhan patah hati dari pria sebelumnya. Ya, saya memang orang yang sulit move-on yang sekalinya patah hati, sembuhnya bisa butuh waktu bertahun-tahun. Saya bertemu dengan beberapa pria namun mereka hanya enak dijadikan teman mengobrol dan sisanya sudah ada yang punya. Bagi saya tabu untuk mendekati pria yang sudah memiliki pasangan meskipun ada tagline yang bilang jika “janur kuning belum melengkung, si dia bisa jadi milik siapa saja”. I am super againts it!

Pertemuan kedua saya dengan Sam terjadi tujuh bulan kemudian, tepatnya di pertengahan bulan Oktober. Pertemuan kedua itu tidak berjalan begitu lancar saat saya tahu dia lupa nama saya dan juga kenyataan bahwa dia lebih muda tujuh bulan dari saya. Having a younger boyfriend is a big no no for me after had a romance with someone whom seventeen years older than me. Namun Sam ternyata jauh dari bayangan saya tentang seorang pria bule berusia 22 tahun. Dia tahu buku-buku keren yang ingin sekali saya baca, film yang saya kira hanya saya yang tahu, dan juga pengetahuannya soal hal-hal di luar nalar saya. Dalam sekejap saya jatuh hati padanya namun gengsi gara-gara dia lebih muda dari saya.

Hidup saya menjadi lebih berwarna bersama laki-laki yang canggung saya panggil pacar sampai akhirnya dia memintanya dua bulan kemudian. Sam adalah pacar pertama saya. Seriusan! Pacar saya di dunia nyata yang benar-benar menyatakan bahwa “I am your boyfriend and you are mine!“. Pacar saya sebelumnya adalah mereka yang saya kenal lewat situs Friendster yang memutuskan saya dua minggu kemudian karena saya kurang cantik dan terlalu gemuk, pacar saya kemudian seseorang yang saya kenal lewat situs kencan online, dan dia yang empat tahun lebih muda dari Ibu saya adalah pria numpang lewat semata.

Setengah tahun kemudian kami memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama di Bali. Entah sudah berapa banyak momen-momen berarti hadir disini hingga akhirnya kami memutuskan untuk melakukan hubungan jarak jauh sejak Sam diterima di sebuah organisasi non-profit internasional di negara asanya pada bulan Juni 2015. Tak terhitung berapa malam saya menangis, meratapi nasib saya yang kesepian. Kami memutuskan untuk bertemu setidaknya satu tahun dua kali, baik itu saya yang mengunjunginya setiap natal atau dia yang mengunjungi saya setiap musim panas. Begitu seterusnya.

Hubungan jarak jauh ini menjadi tanda kedewasaan kami berdua. Bagaimana hubungan kami secara perlahan menguat dan menjadi lebih solid karena jarak dan perbedaan waktu. Rasa rindu bukanlah hal main-main dan terkadang berbincang lewat Skype tidak banyak membantu. Di tahun-tahun awal saya dirundung rasa takut akan dicampakan dan ditinggalkan, namun ternyata hal itu bodoh belaka. Di tahun kelima ini, kami masih sama. Masih saling mencintai dan berniat untuk melangkah lebih jauh dan lebih serius.

HE PROPOSED ME!

Yes, he proposed me by saying “Will you marry me?”.

Bulan Mei tanggal 9 tahun 2018.

Saat saya pertama kali mengenal dia, saya tidak pernah berharap dia akan menjadi dunia saya. Saya pun tidak pernah meminta dia untuk tinggal karena terkadang jarak menjadi begitu banyak penghalang. Saya tidak banyak meminta hanya ingin dia setia dan tidak mencampakkan saya seperti apa yang dia lakukan pada Ibu saya.

Kami masih duduk di dua kutub yang berbeda. Dia di Manchester dan sedang tertidur lelap, sedangkan saya di Bandung dan bergumul dengan pekerjaan saya. Saya yang begitu terbuka soal emosi saya, dia yang lebih kalem dalam menjalaninya. Kami bagai dua kutub yang berbeda dan saling bersentuhan tanpa bisa terlepas. Hanya saja saat ini kami harus bersabar hingga Desember untuk bisa saling bertemu.

Saat ini saya sudah tidak bisa menghitung berapa banyak tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik yang saya habiskan bersama dia, namun yang saya yakini bahwa semuanya akan menjadi tidak terbatas. Selamanya.

 

Dianita

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s