Efek Kupu-Kupu di Sepanjang Jalan

Butterfly Effect

Bukan, kita bukan hendak membahas sebuah film Hollywood yang dibintangi oleh Ashton Kutcher dan Amy Smart yang rilis tahun 2004 ataupun spesies kupu-kupu terbaru yang ditemukan seorang zoologist di Lembah Bantimurung, Sulawesi Selatan. Butterfly effect atau jika dibahasa lokalkan berarti “efek kupu-kupu” selain sebuah teori matematika, juga adalah sebuah teori ilmiah yang dimana bahwa sebuah kejadian tunggal, sekecil apapun itu besarannya, akan memiliki dampak perubahan yang besar. Terminologi ini sering disebut juga sebagai teori chaos alias teori keributan yang merembet kemana-mana.  1200px-Danaus_plexippus_MHNT_dos

Kupu-kupu Danaus Plexipus

Sumber: Koleksi Muséum de Toulouse collection of Lepidoptera

Seperti kemarin sore saat saya dan suami saya, Sam sedang bertukar pikiran melalui Sambungan Lansung Jarak Jauh milenial yaitu pesan Facebook messanger. Obrolan pasutri muda yang awal mulanya hanya sebatas mengapa industri makanan mulai mengganti penggunaan gula tebu menjadi sirup buah hingga ke kaitannya dengan isu sosial politik di negara penghasil tebu. Merembet kemana-mana sampai jam menunjukkan lewat tengah malam. Rembetan pembicaraan ini yang kemudian mengusik saya akan efek meluas dari satu kejadian ‘kecil’. Kejadian yang tidak sesederhana perdebatan kusir pasutri muda yang baru seminggu kawin sudah berpisah karena beda negara.

Tahukah kamu jika efek tabrakan lalu lintas tidak hanya dirasakan oleh korban?

Seperti efek kepak sayap kupu-kupu yang dimana saat dikepakkan, objek di sekelilingnya akan bergerak dan begitupula dengan insiden tabrakan lalu lintas. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat 1.3 juta jiwa yang meninggal akibat tabrakan lalu lintas di seluruh dunia dan sekitar 20-50 juta di antaranya mengalami cedera baik ringan maupun berat. Menariknya, lebih dari 90% peristiwa tabrakan lalu lintas terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Fakta mencengangkan adalah mayoritas korbannya adalah para pemuda pemudi usia produktif antara 15-29 tahun. Mereka-mereka yang berbagi umur dengan saya, kamu, adik, maupun kakakmu.

Indonesia pun tidak lepas dari kungkungan cerita tabrakan-tabrakan hebat di jalan raya. Masih ingat rentetan peristiwa tabrakan di jalur Jalan Raya Puncak-Cianjur yang terjadi tahun 2017 lalu? Sepanjang bulan April setidaknya ada tiga tabrakan beruntun yang berhasil dirangkum dan mayoritas tabrakan melibatkan bus sarat muatan turis-turis lokal yang hendak berlibur dan pengguna sepeda motor. Disinyalir kondisi bus kurang prima mulai dari isu rem blong, usia tua, atau kelebihan muatan jadi alasan klise. Selain kondisi bus, tak jarang Pemerintah Daerah hingga Nasional ikut kelimpungan menjawab pertanyaan kuli tinta yang berasumsi jika tabrakan juga salah pemerintah yang kurang awas. Kurang kasih rambu, kurang dana benerin jalan, kurang ancang-ancang taruh barrier di sepanjang jurang, kurang-kurang lainnya. Bagaimana dengan korban baik yang menderita luka ringan, berat ataupun mereka yang meninggal?

Data dari WHO menyebutkan jika sebuah negara membukukkan kerugian sebesar 3% dari pendapatan domestik bruto per tahunnya untuk menutupi ‘sial’ nya tabrakan yang terjadi dan jika dikalkulasikan kurang lebihnya ada US$ 518 milyar yang terbuang. Kurs yang digunakan bukanlah rupiah, melainkan dollar Amerika Serikat yang saat ini bernilai Rp 14,100 per satu dollarnya. Enggan saya raih kalkulator saking tidak kuatnya membayangkan akan ada berapa angka nol di belakangnya.

Sudah jelas kan dari dua-tiga kendaraan yang baku hantam masalahnya sudah merangkak hingga level kursi nasional. Masing-masing kementerian disalahkan atau dipertanyakan tanggung jawabnya karena ada puluhan nyawa melayang sia-sia yang melompat dari bangku bus pasriwisata. Kementerian dan Dinas PUPR yang disalahkan karena khilaf membangun jalan berkeselamatan, Kementerian dan Dinas Perhubungan dianggap luput saat melakukan uji KIR kendaraan, pemilik bus dianggap serakah hingga enggan mengeluarkan uang untuk membetulkan kampas rem yang aus, dan supir yang lupa rasanya tidur nyenyak ikut disalahkan karena dirasa kurang piawai membawa bis berpenumpang 60 orang berisi Ibu-Ibu pengajian Ibu Kota saat menanjak di Tanjakan Selarong.

56317588_3079651208727725_5319926851387260928_n.jpgKibasan sayap kupu-kupu itu kian merembet ke masing-masing individu yang duduk di bangku-bangku bis, sepeda motor atau pengguna jalan lainnya yang terimbas. Ada seorang gadis muda pekerja seni yang kakinya dilindas paksa oleh pengemudi roda empat di jalanan nasional sepi, yang saban hari baru saja merampungkan operasi kaki nya yang kesembilan. Entah berapa malam dia lewatkan di barak rumah sakit, entah berapa tangis yang dia keluarkan karena sakit luka operasi yang disatukan benang jahit dan erangan bipolar nya hingga seorang suster menyeletuk agar dirinya memohon bantuan seorang Imam agar jin di kepala nya bisa dikeluarkan, dan entah berapa pertunjukan seni yang dia lewatkan sedari tahun 2015 hingga detik ini saat dia duduk dengan sebatang rokok kretek mengepul di ruang tamu rumahnya. Dia Navida, perempuan dengan gradasi rambut berwarna hitam dan pirang yang juga menyahut akan perubahan di sekitarnya pasca tabrakan yang hampir ‘menghilang’ kan kaki kirinya.

Navida bercerita jika motor tua yang membawanya dan (mantan) kekasihnya membelah jalanan sepi menuju Kota Banjar dari Kota Bandung. Jalan berkelok, nihil penerangan, nihil saksi mata, dan hanya dikelilingi persawahan dan hutan di pinggiran jalan. Motor tua rapuhnya dihantam sebuah mobil sedan yang mengebut hingga keduanya melayang ringan. Navida tergeletak di jalanan dan (mantan) kekasihnya terlempar menghantam pohon. Jalan masih gelap, jalanan pun enggan menyerahkan diri dan bersedia menjadi saksi karena tiada mahluk hidup yang hadir kecuali jangkrik, burung hantu dan serangga.

Kisah Navida bukanlah kisah satu-satunya. Ada seorang teman tuna netra yang berbaik hati dan bersemangat menceritakan kisahnya kala dia tergelincir saat sahabatnya mengendarai sepeda motor di jalanan basah karena hujan. Kepalanya terbentur, penglihatannya melarut, mimpinya perlahan luput, begitu juga kekasihnya yang juga mundur perlahan dan menikahi orang lain.  Sahabatnya yang mengendarai sepeda motorpun lari entah kemana. Pekerjaannya hilang, keluarganya berduka, dan dia memilih meninggalkan rumah untuk merantau mencari ilmu dan mencari ‘teman-teman’ yang bisa menggandeng tangannya untuk keluar dari kegelapan. Dia duduk bersama saya dan tiga sahabatnya yang merasakan bahwa tabrakan itu tidak hanya berdampak pada mereka, namun juga bagi keluarga, sahabat, dan juga masa depan mereka.

“Kami sudah menghabiskan awal hidup baru kami dengan penuh sesal, dendam dan kemarahan. Namun saat ini kami berusaha mensyukuri apa yang ada. Toh, menjadi seorang yang bisa melihat belum tentu saya menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain” begitu katanya sambil tersenyum. Handphonya sesekali berbunyi tanda pesan whatsapp yang masuk, sekali tekan tombol seketika langsung keluar racauan pesan.

Berkacalah!

Pernahkah kalian mengemudikan motor kalian dengan kecepatan penuh karena terlambat berangkat ke kantor akibat semalam suntuk menonton serial Korea kesukaan? Atau mungkin kalian pernah sibuk membalas pesan suami/istri/pacar saat berada di belakang kemudi? Atau satu lagi, terlupa mengencangkan tali pengait helm atau sabuk keselamatan? Mulai sekarang coba lagi pikirkan dan berkaca kepada pengalaman Navida dan yang lain.

Di jalanan yang sibuk, khilaf sedikit bukan hanya kita yang terkena dampak namun juga orang lain yang berada di waktu dan tempat yang salah. Kamu dan mereka mungkin adalah kepala keluarga, ibu, saudara perempuan atau lelaki, kekasih, atau panutan khalayak ramai. Sakit dan hilangnya kamu atau mereka tidak hanya akan berdampak pada kalian namun juga meluas sampai ke titik vector paling ujung. Mulai dari saling menyalahkan hingga menukik tajam ke permasalahan lainnya. Tabrakan lalu lintas bisa berarti hilangnya nyawa, hilangnya anggota tubuh, hilangnya sosok kepala keluarga, bertambahnya beban keluarga, hingga permasalahan lainnya.

Kepakan kupu-kupu itu tidak selamanya indah, apalagi saat terjadi di jalan raya. Hentikan kepaknya dengan mulai berdisiplin bagi diri sendiri dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Yakinlah jika membantu meringankan beban pemerintah dan kepolisian engan berdisiplin dan berhati-hati di jalan raya, kamu ikut berpartisipasi dalam menghentikan kepak sayap kupu-kupu itu dan memberikan harapan bagi para pejuang-pejuang pencari nafkah yang meloloskan derap ban nya setiap pagi dan petang.

Terimakasih bagi Navida yang mau bercerita dan menginspirasi kami. Terimakasih bagi teman-teman korban tabrakan yang rela berbagi air matanya untuk saling mengingatkan. Bagi jajaran paham masalah teknis, sosial, hukum, dan materi, dimohon agar sisihkan sedikit rupiah untuk membangun jalanan yang berkeselamatan. Bukan ditambah jumlahnya melainkan diperbaiki kualitasnya, diterangi yang masih gelap, dipanjangkan trotoarnya, ditambahkan rambunya, dan dididik penggunanya agar sadar. Demi menghindari anak kehilangan Bapaknya, Ibu meratapi nasib calon dokter masa depan, atau istri yang kehilangan pencari nafkah.

Salam satu aspal demi hentikan kepak sayap kupu-kupu di jalan raya!

butterfly-effect-cartoon

The Butterfly Effect Cartoon is made by J.L Westover and published on http://www.mrlovenstein.com

 

Dianita Forward

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s